Memanen Sejarah Sarang Burung Walet Di Bulungan.

 

Desain bubungan istana Bulungan yang unik ternyata menaruh rahasianya tersendiri, satu kembali master piece Bulungan yang patut di kenang. Mari Baca Tentang Sarang Walet Di Sini: Http://Perusahaan.topseo.co.id

Siapa yang tak kenal sarang burung walet, di Bulungan telah bejibun rumah-rumah walet di buat, maklum selain soal rasa, harga sarang burung walet sebenarnya menggiurkan, tapi tahu kah kawan, dibalik cita rasanya sebagai barang mewah, ia juga punya sejarah panjang di Bulungan yang layak untuk kita dipanen.

Sekilas Sejarah Sarang Burung Walet Dalam Perdagangan Dunia.

Sarang burung walet, bukan barang baru dalam sejarah perdagangan dunia, andaikan merujuk catatan sejarah, sarang burung walet menjadi barang yang diperdagangkan dimasa Dinasty Tang (618-907 SM), iapun masuk dalam daftar menu harus di istana. Baca Juga Disini: Sarang Walet

Kemudian pada masa Dinasty Ming di tahun 1430, Zeng He alias Cheng Ho dikirim dalam sebuah muhibah formal keberbagai negera laksanakan misi diplomatik dan perdagangan, keliru satu komuditi yang diperdagangkan adalah sarang burung walet.

“Berdasarkan catatan kurang lebih tahun 1587, China mengimpor sarang walet dalam jumlah besar dan mengenakan bea impor. Pada 1618, jumlahnya meningkat pesat dikarenakan adanya pengurangan bea impor yang diberikan kaisar dari Dinasti Ming. Pada waktu itu, sarang walet di terima dengan baik sebagai makanan bernilai oleh masyarakat Provinsi Guangdong dan Fujian,” tulis www.birdnestsoups.com

Jejak rekam sarang burung walet sendiri tambah bersinar dengan adanya dua karya pengobatan yang mengharumkan namanya, dimasa Dinasti Qing akhir abad ke-17, karya selanjutnya tak lain adalah: Ben Cao Bei Yao (Catatan-catatan Penting berkenaan Bahan Obat-obatan) karya Wang pada 1694 dan Ben Cao Feng Yuan (Bahan Obat-obatan di Alam Terbuka) karya Zhang pada 1695.

Orang China percaya sarang burung walet punya daya penyembuh untuk begitu banyak ragam penyakit layaknya TBC, sakit lambung, dan perdarahan paru-paru. Ia juga diakui sanggup meremajakan kulit atau memperlambat proses penuaan. Inilah sebabnya Sarang burung walet menjadi mahal dikarenakan khasiat yang dimilikinya, mereka sendiri menyebut sup sarang burung selanjutnya dengan nama Cia Po.

Dimasanya makanan ini menjadi barang mewah, itulah dikarenakan tak seluruh sanggup mengkonsumsinya, walau demikian keinginan ekspor impor China yang merupakan pembeli terbesar didunia juga ternyata tidak surut, inilah yang nampaknya mempunyai berkah bagi perdagangan sarang burung walet di nusantara, apa kembali menu sarang burung walet ternyata telah merata dikonsumsi para penguasa baik di lokasi selatan China layaknya provinsi Guangdong dan Fujian, tren yang mirip juga berlangsung di luar lokasi kekaisaran China.

Kualitas sarang walet ditentukan oleh lingkungan alam dan keadaan gua. Tapi yang terpenting, waktu pengambilan sarang itu sendiri. Sarang paling baik adalah yang didapat dari gua lembab yang dalam dan diambil alih sebelum burung walet bertelur. Sedangkan yang terjelek, setelah walet muda berbulu. Warna sarang paling baik adalah putih, minim warna gelap, tak tercampuri darah dan bulu.

Burung walet biasanya tinggal dan beranak-pinak di gua-gua dekat laut, jauh dari jangkauan manusia. Ada juga walet yang menentukan gua-gua pedalaman, juga di gua-gua pegunungan kapur.

Menurut Kong et al. (1987), sarang walet yang sanggup dikonsumsi oleh manusia berasal dari sarang yang dibikin dari air liur burung walet sarang putih (collocalia fuciphaga) dan burung walet sarang hitam (collocalia maxima) yang punya kandungan epidermal growth faktor (egf). Sampai kini, harga sarang walet putih lebih mahal daripada sarang walet hitam.

Hikayat Sarang Burung Walet Dalam Lintasan Sejarah Bulungan.

Kapan sebenarnya perdagangan sarang burung walet di Bulungan?, tak sanggup dijawab dengan pasti, tapi melihat arus kuno rute perdagangan yang disinggahi para pedagang China layaknya kepulauan Sulu, Laut China Selatan (sekitar Brunai) dan Selat Makassar yang pada dasarnya lewat Bulungan, maka sangat mungkin usia perdagangan sarang burung ini telah sangat tua.

Menariknya sarang burung walet yang juga disebut lubang batu dalam istilah setempat khususnya dikawasan pantai timur kalimantan ini nampaknya mempunyai arti lebih dari tersekedar barang dagangan, lebih jauh ia telah masuk dalam ranah politik.

Bahkan hikayat yang diceritakan oleh Johansyah Balham dalam rubrik Khas Kaltim B-Magezine menyatakan bahwa seorang raja Kutai pernah memimpin penyerbuan terhadapat sebuah kerajaan kecil yang tak jauh dari lokasi kekuasaannya dikarenakan tergoda dengan kepemilikan sarang-sarang Burung walet yang mengakibatkan kekayaan melimpah raja kecil tersebut.

Di masa kesultanan Bulungan, sarang burung walet juga punya rekaman sejarah panjang, {beberapa|sebagian|lebih dari satu} kisah perlihatkan bahwa Sultan membagi-bagikan kawasan lubang batu atau sarang burung walet kepada para bangsawan untuk menjamin kesetian mereka demi mewujudkan stabalitas kerajaan.

Yang lebih menarik lagi, menurut cerita yang disampaikan oleh Datuk Krama, keliru seorang sepuh di kampung Tanjung Palas secara tak sengaja bertemu dengan aku di warung kopi dekat kawasan Museum Bulungan.

Datuk Krama menceritakan pada aku bahwa desain istana Kesultanan Bulungan yang bertingkat dua itu, mempunyai faedah untuk mengembang biakan sarang burung walet, itulah dikarenakan wujud atap istana yang khas dekat bubungan bertujuan sebagai jalur masuk bagi burung-burung walet yang pergi di pagi hari dan kembali menjelang sore, rungan itu gelap.

Ada ruangan yang terletak disudut belakang yang digunakan jalur masuk dan nampak manusia untuk mengambil alih sarang burung walet tersebut. Kisah ini diaimini oleh keliru seorang tua yang mengaku sewaktu kecil kerap melihat panorama nampak masuknya burung-burung walet lewat bubungan istana tersebut.

Sejauh yang penulis ketahui, sarang burung walet sebenarnya menjadi keliru satu komuditi ekspor penting khususnya pada abad ke-19. Di pantai timur, pelabuhan Samarinda andaikan menjadi keliru satu pelabuhan yang didatangi. Kita menguntungkan J. Zwager, keliru seorang Asisten Residen Belanda di Borneo Timur meninggalkan menuskrip bernilai berbentuk laporan perdagangan di tahun 1853 yang bersisi barang-barang yang diperjual belikan lengkap dengan daftar harganya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *